Pages

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Friday, 6 March 2015

8 Alasan Kenapa Anak Tidak Boleh Dipukul

8 Alasan Kenapa Anak Tidak Boleh Dipukul

Di 29 negara, kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa adalah sebuah perbuatan melanggar hukum. Di 113 negara, sekolah juga dilarang memberikan hukuman dengan memukul.
Meskipun saat ini sudah jarang terjadi, tetap masih ada saja orangtua yang memukul jika anaknya membuat kesal. Padahal tindakan itu sebaiknya dihindari karena bisa berefek buruk pada anak.
Dikutip dari Natural Growth, Dr. Peter Newell, koordinator organisasi End of Punidshment of Children mengatakan, semua orang berhak mendapat perlindungan atas kebebasan fisik mereka, anak-anak termasuk orang yang berhak itu. Selama beberapa tahun terakhir ini pun, cukup banyak psikolog dan sosiolog yang merekomendasikan agar orangtua tidak memukul saat anak melakukan hal yang tidak baik atau mengesalkan.
Berikut ini 8 alasan kenapa Anda sebaiknya tidak memukul anak:
1. Memukul anak malah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang suka memukul. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul memiliki perilaku agresif dan menyimpang saat mereka remaja dan dewasa.
Anak-anak secara alami belajar bagaimana harus bersikap melalui pengamatan dan meniru orangtua mereka. Makanya jika Anda suka memukul, saat dewasa nanti, mereka pun akan menganggap apa yang Anda lakukan itu memang boleh dilakoni.
2. Anak-anak berperilaku tidak baik biasanya karena orangtuanya atau orang yang mengasuhnya melupakan kebutuhannya. Kebutuhan itu di antaranya, tidur yang cukup, makanan bernutrisi, udara segar dan kebebasan mengeksperikan diri untuk bereksplorasi.
Orangtua terkadang melupakan kebutuhan anak tersebut karena terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ditambah lagi stres yang melanda membuat orangtua jadi cepat emosi saat anak mulai menunjukkan sikap tidak baiknya.
Sangat tidak adil jika akhirnya si anak dipukul hanya karena sikap tidak baiknya yang awalnya sebenarnya adalah kesalahan orangtua.
3. Hukuman malah membuat anak tidak belajar bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif dan lebih manusiawi. Anak yang dihukum jadi memendam perasaan marah dan dendam. Anak yang dipukul orangtuanya pun jadi tidak bisa belajar bagaimana menghadapi situasi yang serupa di masa depan.
4. Hukuman untuk anak dengan kekerasan bisa mengganggu ikatan antara orangtua dan anak. Ikatan yang kuat seharusnya didasari atas cinta dan saling menghargai.
Jika Anda memukul anak, dan si anak kemudian menuruti perkataan Anda, apa yang dilakukannya itu hanya karena dia takut. Sikap itu pun tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya anak akan memberontak lagi.
5. Anak yang mudah marah dan frustasi tidaklah terbentuk dari dalam dirinya. Kemarahan tersebut sudah terakumulasi sejak lama, sejak orangtuanya mulai memberinya hukuman dengan kekerasan.
Hukuman itu memang pada awalnya sukses membuat anak bersikap baik. Namun, saat si anak beranjak remaja dan menjadi dewasa, hukuman itu malah menjadi buah simalakama.
6. Anak yang dipukul di bagian sensitifnya, bisa membuat anak mengasosiasikan hal itu antara rasa sakit dan kenikmatan seksual. Pemikiran tersebut akan berdampak buruk, terutama jika anak tidak mendapat banyak perhatian dari orangtuanya, kecuali hanya saat dihukum.
Anak yang mengalami hal tersebut akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Mereka percaya, mereka tidak layak mendapatkan hal yang lebih baik.
7. Hukuman fisik bisa membuat anak menangkap pesan yang salah yaitu 'tindakan itu dibenarkan'. Mereka merasa memukul orang lain yang lebih kecil dari mereka dan kurang memiliki kekuatan, memang boleh.
Saat dewasa, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain dan takut pada orang yang lebih kuat dari mereka.
8. Berkaca dari orangtuanya yang suka memukul, anak belajar kalau memukul merupakan cara yang bisa dilakukan untuk mengeksperikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sungguh memukul anak bukanlah cara yang tepat untuk mendidik mereka atau membuat mereka jadi orang yang lebih baik.

5 Cara Agar Anak Mau Berhenti Ngedot

5 Cara Agar Anak Mau Berhenti Ngedot

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan atau mengurangi kebiasaan minum susu melalui botol. Cara ini perlu dilakukan dengan penuh kesabaran agar tidak menimbulkan dampak negatif pada anak seperti rasa kecewa dan rasa cemas yang berkepanjangan pada anak.
Adapun cara-cara yang dimaksud adalah:
1. Penyapihan susu botol seawal mungkin. Penyapihan susu botol harus dilakukan secara perlahan-lahan untuk menghindari rasa cemas dan kecewa yang berlebihan. Usia 7-8 bulan sebaiknya anak-anak sudah dilatih minum susu dari gelas secara bertahap. Mula-mula satu teguk, dua teguk, dan seterusnya hingga di usia setahun si kecil sudah bisa minum dari gelas dengan penutup yang 'mulut'-nya dan punya dua 'kuping' di kiri kanan sebagai pegangan.
2. Pemberian air putih dan pembersihan mulut. Pemberian air putih sesudah minum susu dari botol dapat dilakukan dengan cara menyediakan botol susu lain yang diisi dengan air putih, atau dengan cara berkumur apabila anak sudah dapat berkumur.
3. Pemberian dot penenang. Pemberian dot ini dilakukan pada anak yang berumur kurang dari dua tahun untuk mengurangi perasaan kecewa pada anak.
4. Usahakanlah untuk tidak memberikan susu pada anak saat menjelang tidur sampai tertidur.
5. Orang tua harus sedini mungkin melakukan tindakan pembersihan terhadap gigi-gigi anaknya. Sebaiknya sejak anak berusia delapan bulan, gigi-gigi yang sudah tumbuh dibersihkan dengan kapas yang dibasahi. Untuk anak yang lebih besar, pembersihan dapat dilakukan dengan sikat gigi kecil, paling sedikit dua kali sehari: pagi hari sesudah makan dan malam menjelang tidur. Cara ini harus dilakukan sehingga merupakan kebiasaan dan akhirnya anak belum merasa enak kalau belum menggosok gigi sesudah makan pagi dan menjelang tidur malam.

4 Jurus Ampuh Agar Anak Tidak Manja

4 Jurus Ampuh Agar Anak Tidak Manja

Tahukah Anda, sikap manja anak bisa tumbuh, karena orang tua merasa tidak berdaya mengendalikan anak.
Namun menurut psikolog anak dan remaja, Richard Bromfield, Ph.D., dari Harvard Medical, ada 4 tips untuk mengambil kembali kendali Anda sebagai orang tua:
1. Berkomitmen tidak memanjakan anak
Jadikan Anda dan suami sebagai pemimpin di rumah, sehingga mereka akan mengikuti. Jadi, bukan hanya Anda yang bisa mengikuti kemauan anak, mereka juga harus bisa mengikuti keinginan orang tua.
2. Jelas dan tegas
Beritahu anak mengenai apa yang Anda harapkan secara gamblang. Misalnya, tekankan pada mereka untuk bisa mandiri membersihkan kamar sendiri dan menyiapkan segala keperluan sekolah.
3. Jangan ‘menyuap’ anak di rumah
Orang tua dan anak-anak akan membayar mahal kebiasaan ‘menyuap’ ini. Kebiasaan buruk ini akan terus mereka lakukan saat beranjak dewasa.
4. Jadilah bos
Tidak berarti Anda harus kejam. Maksudnya, bos yang bisa memahami, menyenangkan, memimpin, dan berwibawa sebagai orang tua. (sumber : parenting.co.id)

Cara Mengajarkan Kejujuran Pada Anak Sejak Dini

Cara Mengajarkan Kejujuran Pada Anak Sejak Dini

Kejujuran adalah nilai kehidupan mendasar yang paling penting yang harus diajarkan pada anak sejak ia kecil. Mengajarkan anak untuk berkata, bersikap dan berperilaku jujur akan menjadi pembelajaran yang berguna untuk kehidupannya kelak. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku dinegara manapun. Pepatah seperti ini wajib dikenalkan pada anak-anak sejak usia dini. Sebab penanaman ilmu sejak dini umumnya akan cenderung lebih mudah diserap anak dan ditanamkan hingga mereka dewasa sehinga menjadi sebuah kebiasaan yang baik.
Cara terbaik untuk melatih kejujuran anak adalah dengan mencontohkan kejujuran tersebut dimulai dari diri orang tua itu sendiri. Jangan pernah mengharapakan anak anda memiliki sikap yang jujur bila setiap saat orangtua selalu menyuguhkan ketidak jujuran pada anaknya. Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengajarkan sikap jujur atau kejujuran pada anak adalah dengan tidak bereaksi berlebihan bila si anak berbohong terhadap anda. Bereaksilah sewajarnya dan bantu anak untuk menemukan keberanian mengatakan kebenaran. Anak tahu jika kebohongan telah membuat anda kecewa, namun apabila reaksi yang anda berikan terlalu berlebihan, maka hal ini akan cenderung membuat anak ketakutan untuk berbicara yang sebenarnya.
Nah, selain dua poin tersebut dibawah ini ada pula beberapa tips lain yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kejujuran terhadap anak sejak usia dini.
1. Terapkan Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Penjelasan teori atau cerita mengenai kejujuran saja tidak cukup untuk menumbuhkan sikap kejujuran pada anak, hal ini perlu juga dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab anak-anak akan membutuhkan sesuatu yang nyata dalam pandangan mereka, sehingga teori mengenai kejujuran tidak akan lagi nampak abstrak untuk mereka. Untuk itu, mulailah menerapkan sikap dan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari, seperti menerapkannya dalam ucapan atau kalimat dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, apa yang diucapkan harus konsekuen dengan apa yang diperbuat. Sebab, kadang-kadang justru kalimat inilah yang sulit untuk dipegang. Nah, disinilah sebagai orangtua kita perlu belajar banyak dalam hal ini.
2. Berikan Pengetahuan dan Keyakinan Bahwa Tuhan Maha Melihat
Kenalkan anak pada keyakinan bahwa dimanapun mereka berada kapanpun mereka berbohong meski tanpa diketahui orang lain masih ada tuhan Yang Maha Melihat segalanya yang akan selalu mencatat setiap perilaku buruk yang mereka lakukan. Nah, lantas bagaimana orangtua bisa mengetahui anak-anaknya tetap berperilaku jujur atau tidak meski berada di luar rumah? Percayalah ibu, ketika kita menitipkan anak-anak kita pada sang Pemilik Hidup ketika anak-anak jauh dari jangkauan kita, maka apa yang dilakukannya diluar jangkauan prinsip kita pasti akan ditunjukannya pada kita. Misalkan ketika anak menyembunyikan sesuatu dalam tasnya, seolah secara tiba-tiba kita merasa ingin memeriksa tasnya dan menemukan apa yang mereka sembunyikan dari kita.
3. Berikan Pemahaman Bahwa 'Jujur Itu Nikmat'
Ada serangkaian kejujuran yang akan terasa nikmat namun kenikmatannya itu tidak dapat secara langsung kita nikmati. Hal ini penting sekali diajarkan kepada anak sejak dini. Ajarkan anak untuk selalu mendahulukan perilaku kejujuran sebab kejujuran akan mengantarkan mereka pada kehidupan yang tenang dan damai tanpa dihantui rasa bersalah.
Demikian beberapa tips mengajarkan kejujuran pada anak sejak usia dini. Anak-anak yang dibekali dengan perilaku dan sikap yang jujur akan melahirkan generasi penerus bangsa yang senantiasa selalu membawa nilai-nilai kebaikan pada orang-orang sekitarnya.

dikutip dari Dokter Anak.com