Pages

Showing posts with label psikologi. Show all posts
Showing posts with label psikologi. Show all posts

Friday, 6 March 2015

PENYEBAB DAN CIRI-CIRI ANAK SEDANG STRESS

PENYEBAB DAN CIRI-CIRI ANAK SEDANG STRESS

Dear Ayah Bunda,
Tak hanya orang dewasa yang bisa menderita stres. Anak-anak pun berpeluang mengalami stres. Harus diwaspadai karena stres berlebih termasuk salah satu gangguan kejiwaan.
Agar tumbuh kembang anak, terutama pertumbuhan mentalnya, tidak terganggu, maka sedapat mungkin anak-anak jangan dibiarkan menderita stres berkepanjangan. Berikut ini penyebab dan ciri-ciri seorang anak sedang stres.
Penyebab
- Perubahan besar
Perubahan besar di antaranya pindah ke rumah baru, pindah sekolah, atau apapun yang serbabaru dan memerlukan waktu untuk beradaptasi.
- Konflik keluarga
Terjadinya konflik dalam kehidupan berumah tangga tak dapat dihindari. Namun, sebagai orangtua, Anda harus bijaksana dalam menangani konflik. Hindari perselisihan di depan anak karena akan menyebabkan rasa keyakinan dan kepercayaan mereka hilang. Rumah seharusnya menjadi tempat bernaung yang memberi rasa aman dan nyaman.
- Jadwal kegiatan terlalu padat
Wajar jika orangtua menghendaki yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, ada kalanya orangtua jadi terkesan memaksakan kehendak dengan membebani anak jadwal kegiatan yang padat. Sebelum mengikutsertakan anak ke tempat les atau kegiatan di luar sekolah, sebaiknya tanya kepada anak apakah berminat. Tanyakan juga kepada diri Anda, apakah les tersebut diperlukan anak?
- Pekerjaan sekolah
Kegiatan belajar di sekolah kadang menjadi momok menakutkan bagi anak. Terutama bagi mereka yang kurang memahami mata pelajaran dengan baik. Di sini diperlukan peran dan perhatian lebih orangtua kepada anak.
- Masalah sosial
Gangguan, ejekan, dan perasaan tersisihkan dari teman sebaya sangat mempengaruhi emosi jiwa anak. Perhatikan jika terdapat perubahan sikap anak dari ceria menjadi murung. Bisa jadi, ini penyebab anak stres.
- Merasa tidak disayang orangtua
Anak-anak adalah pribadi yang unik. Meski bersaudara kandung, antara kakak dan adik memiliki kepribadian dan sifat berbeda. Mereka juga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Hindari membandingkan mereka dan menonjolkan kasih sayang berbeda.
Ciri-ciri
Sebenarnya, ciri-ciri anak sedang stres mudah dikenali .Anak yang stres biasanya mengalami perubahan perilaku. Dari yang semula riang, mendadak murung. Berikut ciri umum yang ditunjukkan anak ketika stres.
- Fisik
Mengompol, susah tidur, nafsu makan turun, sakit perut, gagap, mimpi buruk dan sakit kepala, menjadi ciri fisik yang dialami anak stres.
- Emosi
Gejala emosi anak diliputi rasa bosan, tidak ada keinginan terlibat kegiatan di sekolah atau di rumah, marah, takut, menangis, berbohong, berlaku kasar kepada teman, bereaksi berlebihan terhadap hal sepele, dan melorotnya nilai akademik.
- Kognitif
Mendadak kehilangan konsentrasi saat belajar di sekolah dan kurang minat menyelesaikan pekerjaan sekolah, suka menyendiri dalam waktu lama.
- Tingkah laku
Anak tidak mampu mengontrol emosi, bersikap brutal, keras kepala, dan tempramen. Tanda lain yang bisa Anda amati yakni terjadi perubahan pola tidur, muncul kebisaan baru seperti menghisap jempol, memilin rambut, dan mencubit hidung. (berbagai sumber)

10 Cara Menguatkan Hubungan Ayah dengan Anak Perempuan

10 Cara Menguatkan Hubungan Ayah dengan Anak Perempuan

Hubungan ayah dan anak perempuan sangat penting karena menjadi dasar bagi hubungan dengan lawan jenisnya. Hubungan yang tak baik antara ayah dan anak perempuan biasanya juga bisa berimbas pada emosi anak dan caranya membangun hubungan dengan pria lain dalam hidupnya. Berikut adalah cara membangun hubungan yang kuat antara ayah dan anak perempuan, seperti dilansir oleh Times of India.
1. Menjadi teman
Perlakukan anak perempuan sebagai teman dengan sering ngobrol. Tak hanya berbicara, ayah juga harus berbagi ide sambil mendengarkan dan meminta pendapat anaknya.
2. Sejajar
Jangan bersikap seolah anak perempuan tak tahu apa-apa dan ayah tahu segalanya. Perlakukan dia secara sejajar. Anak-anak saat ini lebih sensitif dan tahu apa yang sedang mereka lakukan.
3. Jadi mediator
Ketika anak perempuan bertengkar dengan ibunya, ayah harus berada di tengah sebagai mediator. Campur tangan pria akan membantu menyelesaikan masalah dan menenangkan kedua belah pihak.
4. Komunikasi
Jika ayah bukan orang yang mudah berkomunikasi atau menunjukkan perasaan, maka ayah bisa memulai dengan hal kecil seperti membantunya mengerjakan tugas rumah atau mengajaknya berjalan-jalan sesekali.
5. Percaya
Ketika anak perempuan memasuki masa remaja, ayah biasanya bersikap terlalu over protektif. Perilaku ini akan membuat anak perempuan semakin jauh dengan ayahnya. Jangan terlalu mencurigai di mana dan apa yang dilakukan anak. Beri mereka petunjuk kemudian beri mereka kepercayaan.
6. Mandiri
Anak perempuan tak selamanya menjadi bayi, jadi biarkan dia mandiri. Ketika melakukan kesalahan, biarkan mereka belajar dari kesalahan mereka sendiri. Diskusikan secara sehat mengenai kesalahan yang mereka lakukan. Jangan menyalahkan atau memojokkan mereka.
7. Cintai anak sepenuhnya
Bagaimanapun dia adalah anak perempuan bagi ayahnya, jadi sudah seharusnya seorang ayah mencintai anaknya tanpa syarat bahkan ketika dia berbuat kesalahan dan bukan anak perempuan yang ideal. Dukungan ini akan menguatkan anak dan membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.
8. Terima teman-temannya
Menerima teman-teman anak perempuan kadang bisa menyusahkan. Jenis teman yang berada dalam lingkarannya bisa jadi mengejutkan. Namun menerima mereka berarti ayah bisa menerima putri mereka.
9. Sabar
Saat remaja, hormon anak akan semakin menggila, begitu juga dengan emosi. Anak perempuan akan menjadi yang pertama meninggikan suaranya, sementara ayah harus selalu menahan emosi mereka. Ketika ayah terlihat tidak ikut emosi, maka anak perempuan akan menenangkan diri mereka sendiri.
10. Habiskan waktu bersama
Waktu bersama adalah hal yang bisa menguatkan hubungan. Coba lakukan sesuatu bersama-sama, seperti menanam bunga kesukaannya atau ikut bermain game favoritnya. Ini membuat anak perempuan merasa diperhatikan dan diterima sepenuhnya.
Untuk memperkuat hubungan dengan anak perempuan Anda, jangan ragu untuk melakukan 10 cara di atas. (sumber : merdeka.com)

10 TIPS MENGHENTIKAN BALITA MINUM DENGAN BOTOL SUSU

“10 TIPS MENGHENTIKAN BALITA MINUM DENGAN BOTOL SUSU”

Balita usia 6 bulan sudah dapat dikenalkan dengan cara minum dari cangkir. Anak usia 12 bulan sudah memiliki koordinasi dan deksteritas manual yang cukup untuk minum dari cangkir. Balita yang minum susu dari botol cenderung susah untuk menghentikan kebiasaan ngedot dari botol susu. Kebiasaan ini bisa berlangsung bahkan setelah usia lebih dari lima tahun. Minum susu dari botol menjadi kebiasaan yang bersifat addiktif. Bahkan botol kosong sekalipun menjadi sesuatu yang nikmat untuk disedot. Menghilangkan kebiasaan minum dari botol susu bisa jadi sesuatu tantangan serius bagi ibu.
Berikut beberapa tips menghentikan si kecil minum dari botol dot :
1. GUNAKAN CANGKIR BAYI
Gunakan cangkir bayi yang memiliki corong yang bisa dimasukkan ke mulut. Cangkir ini sering disebut juga cangkir seruput (sippy cup) karena digunakan bayi untuk belajar menyeruput minuman tanpa tumpah. Cangkir bercorong ini membuat anak minum dengan cara yang agak mirip dengan ngedot tetapi memiliki pengangan seperti cangkir. Cangkir ini banyak direkomendasikan digunakan saat transisi cara minum dari botol ke cangkir.
2. SIAPKAN CANGKIR MINUM SAAT MAKAN
Menyiapkan secangkir air saat makan membuat si kecil lebih siap ketika ia harus diminta minum dengan menggunakan cangkir. Hal ini juga memberikan kesan bahwa ia hanya boleh minum dari cangkir saat makan.
3. KURANGI KESEMPATAN BALITA MINUM DARI BOTOL SECARA BERTAHAP
Kurangi jatah minum dari botol dot. Mula-mula bayi diberikan minum dari cangkir hanya pada saat makan, saat menjelang tidur siang atau tidur malam masih diberikan botol susu. Lalu biasakan sebelum tidur untuk memberikan secangkir susu agar si kecil tidak kehausan sebelum tidur. Lalu jangan pernah memberikan botol susu sebelum tidur, berilah si kecil pegangan lain berupa mainan yang ia sukai.
4. TAWARKAN MINUMAN LAIN DENGAN CANGKIR
Menawarkan minuman lain dalam cangkir mengenalkan kepada si kecil cara minum menggunakan cangkir. Bayi di atas satu tahun sudah dapat dikenalkan dengan minuman lain seperti teh dan jus.
5. BUATLAH KESAN MINUM DENGAN CANGKIR LEBIH NIKMATE
Encerkan susu dalam botol dot sedikit demi sedikit. Buatlah susu semakin encer di dalam botol. Jika balita minum dari cangkir buatlah susu seperti biasa. Ini akan mengesankan bahwa minum dari cangkir lebih nikmat dan menyegarkan.
6. JAUHKAN BOTOL SUSU DARI PANDANGAN SI KECIL
Kadang meskipun tidak haus, si kecil tetap merasa nyaman jika bersama botolnya. Menjauhkan botol susu dari pandangan si kecil membantunya untuk mulai melupakan botol kesayangannya.
7. ALIHKAN PERHATIAN SI KECIL DARI BOTOL DENGAN SECANGKIR MINUMAN
Jika si kecil menanyakan atau meminta botolnya. Tawarkan minuman lain yang ia sukai dengan menggunakan cangkir.
8. BERILAH CONTOH MINUM DENGAN CANGKIR
Anak-anak mempunyai kebanggaan jika bisa meniru orang dewasa. Cobalah mengajak anak minum bersama-sama sekeluarga. Dan mintalah anak meniru cara minum orang dewasa dengan menggunakan cangkir.
9. JADIKAN CANGKIR SEBAGAI PROPERTI YANG MENYENANGKAN
Ajaklah si kecil membeli cangkir yang ia sukai. Mengetahui bentuk dan gambar yang disukai si kecil sangat membantu si kecil menyukai cangkirnya sendiri sebagai ganti botol kesayangannya.
10. BERIKAN PENGHARGAAN DAN PUJIAN
Berikan penghargaan dan pujian jika saat si kecil minum dari cangkir. Hal ini memberikan kesan bahwa minum dengan cangkir adalah adalah keterampilan yang membanggakan.

8 Alasan Kenapa Anak Tidak Boleh Dipukul

8 Alasan Kenapa Anak Tidak Boleh Dipukul

Di 29 negara, kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa adalah sebuah perbuatan melanggar hukum. Di 113 negara, sekolah juga dilarang memberikan hukuman dengan memukul.
Meskipun saat ini sudah jarang terjadi, tetap masih ada saja orangtua yang memukul jika anaknya membuat kesal. Padahal tindakan itu sebaiknya dihindari karena bisa berefek buruk pada anak.
Dikutip dari Natural Growth, Dr. Peter Newell, koordinator organisasi End of Punidshment of Children mengatakan, semua orang berhak mendapat perlindungan atas kebebasan fisik mereka, anak-anak termasuk orang yang berhak itu. Selama beberapa tahun terakhir ini pun, cukup banyak psikolog dan sosiolog yang merekomendasikan agar orangtua tidak memukul saat anak melakukan hal yang tidak baik atau mengesalkan.
Berikut ini 8 alasan kenapa Anda sebaiknya tidak memukul anak:
1. Memukul anak malah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang suka memukul. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul memiliki perilaku agresif dan menyimpang saat mereka remaja dan dewasa.
Anak-anak secara alami belajar bagaimana harus bersikap melalui pengamatan dan meniru orangtua mereka. Makanya jika Anda suka memukul, saat dewasa nanti, mereka pun akan menganggap apa yang Anda lakukan itu memang boleh dilakoni.
2. Anak-anak berperilaku tidak baik biasanya karena orangtuanya atau orang yang mengasuhnya melupakan kebutuhannya. Kebutuhan itu di antaranya, tidur yang cukup, makanan bernutrisi, udara segar dan kebebasan mengeksperikan diri untuk bereksplorasi.
Orangtua terkadang melupakan kebutuhan anak tersebut karena terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ditambah lagi stres yang melanda membuat orangtua jadi cepat emosi saat anak mulai menunjukkan sikap tidak baiknya.
Sangat tidak adil jika akhirnya si anak dipukul hanya karena sikap tidak baiknya yang awalnya sebenarnya adalah kesalahan orangtua.
3. Hukuman malah membuat anak tidak belajar bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif dan lebih manusiawi. Anak yang dihukum jadi memendam perasaan marah dan dendam. Anak yang dipukul orangtuanya pun jadi tidak bisa belajar bagaimana menghadapi situasi yang serupa di masa depan.
4. Hukuman untuk anak dengan kekerasan bisa mengganggu ikatan antara orangtua dan anak. Ikatan yang kuat seharusnya didasari atas cinta dan saling menghargai.
Jika Anda memukul anak, dan si anak kemudian menuruti perkataan Anda, apa yang dilakukannya itu hanya karena dia takut. Sikap itu pun tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya anak akan memberontak lagi.
5. Anak yang mudah marah dan frustasi tidaklah terbentuk dari dalam dirinya. Kemarahan tersebut sudah terakumulasi sejak lama, sejak orangtuanya mulai memberinya hukuman dengan kekerasan.
Hukuman itu memang pada awalnya sukses membuat anak bersikap baik. Namun, saat si anak beranjak remaja dan menjadi dewasa, hukuman itu malah menjadi buah simalakama.
6. Anak yang dipukul di bagian sensitifnya, bisa membuat anak mengasosiasikan hal itu antara rasa sakit dan kenikmatan seksual. Pemikiran tersebut akan berdampak buruk, terutama jika anak tidak mendapat banyak perhatian dari orangtuanya, kecuali hanya saat dihukum.
Anak yang mengalami hal tersebut akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Mereka percaya, mereka tidak layak mendapatkan hal yang lebih baik.
7. Hukuman fisik bisa membuat anak menangkap pesan yang salah yaitu 'tindakan itu dibenarkan'. Mereka merasa memukul orang lain yang lebih kecil dari mereka dan kurang memiliki kekuatan, memang boleh.
Saat dewasa, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain dan takut pada orang yang lebih kuat dari mereka.
8. Berkaca dari orangtuanya yang suka memukul, anak belajar kalau memukul merupakan cara yang bisa dilakukan untuk mengeksperikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sungguh memukul anak bukanlah cara yang tepat untuk mendidik mereka atau membuat mereka jadi orang yang lebih baik.

Tips Agar Anak Suka Makan Sayura dan Buah

Tips Agar Anak Suka Makan Sayuran dan Buah

Bagi anak-anak, tidak jarang sayur dan buah adalah makanan yang dibenci dan sangat tidak disukai. Padahal, dalam sayur dan buah sendiri mengandung berbagai vitamin maupun gizi yang mampu menutrisi tumbuh kembang anak.
Pada umumnya anak lebih menyukai makanan yang manis ataupun gurih. Sedangkan makanan manis dan gurih terkadang memiliki kandungan yang tidak baik bagi kesehatan anak. Lalu bagaimana agar anak suka sayur dan buah? Dilansir dari nourishedkitchen.com, inilah tips agar si kecil menyukai makan buah dan sayur.
Beri Contoh
Agar anak mau makan sayur, sebagai orang tua Anda juga harus suka dengan sayuran. Berikan contoh dan terapkan kebiasaan menyukai sayuran kepada buah hati Anda. Sempatkan diri Anda untuk makan sayuran bersamanya. Ciptakan aktivitas makan sayur yang menyenangkan agar buah hati Anda tertarik ikut makan sayur dan buah juga.
Jangan Hukum Anak
Jangan memaksa buah hati untuk makan sayur dan buah pilihan Anda jika ia tidak suka. Hindari pula menghukum anak yang tidak mau makan sayur serta buah. Hukuman justru bisa membuatnya semakin membenci sayur dan buah. Berikan sayur dan buah secara bertahap dengan sabar sampai si kecil menyukai sayur dan buah.
Camilan Buah Dan Sayur
Biasakan membiasakan anak makan camilan buah dan sayur. Letakkan buah ataupun sayur yang siap dimakan di meja belajarnya, di ruang TV ataupun tempat favoritnya saat bersantai. Siapkan buah dan sayur yang ia suka. Mengganti snack dengan buah dan sayur bisa melatih buah hati menyukai makan buah dan sayur.
Kreasikan Olahan Sayur
Dalam mengolah sayuran, Anda harus kreatif dalam menciptakan rasa sayur yang enak, lezat dan tidak kalah nikmat dari daging ataupun makanan berprotein lainnya. Jika Anda memasak sayuran untuk buah hati Anda, usahakan mengganti menu sayuran setiap hari agar anak tidak bosan dengan menu yang sama.
Pilih Sayur Dan Buah
Ajak anak berbelanja dan memilih sendiri sayur ataupun buah yang ia suka. Hal ini bisa membantunya mengenal sayur dan buah lebih dekat serta menyukainya.
Itulah beberapa tips agar anak menyukai sayur dan buah. Bagaimana Bunda, cukup mudah bukan? Usahakan selalu memenuhi nutrisi anak agar tumbuh kembangnya maksimal. (sumber : vemale.com)

Mengenali 3 Tipe Belajar Anak

Mengenali 3 Tipe Belajar Anak

Setiap anak memiliki kemampuan belajar yang berbeda-beda. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dan teknik pengajaran yang berbeda pula.
Di sekolah umum, mungkin metode pengajaran disamakan untuk semua murid. Tapi Anda bisa membantu sang anak menerima pelajaran lebih baik saat belajar di rumah. Untuk itu, Anda harus mengenali terlebih dahulu cara belajar anak.
Dikutip dari Child Central, tipe belajar anak bisa dibedakan menjadi tiga, visual; audotiry dan kinestetik. Masing-masing tipe punya keunggulan juga kelemahan. Seperti apa? Berikut ini penjelasannya.
1. Visual
Tipe visual bisa menyerap pelajaran lebih baik dengan melihat. Mereka lebih suka melihat atau membaca terlebih dulu sebelum belajar hal-hal baru. Diperkirakan, sebanyak 80% pelajaran bisa dimengerti melalui penglihatannya. Membaca buku dan melihat gambar adalah cara belajar yang paling disukainya.
Tipe visual juga biasanya memilih duduk di kursi terdepan di sekolahnya, agar dia bisa melihat dengan jelas guru dan papan tulis. Mereka sangat bagus menuliskan ulang apa yang ada di papan tulis, tapi kadang suka terlewat instruksi yang diberikan secara oral (dikte-red).
Coba perhatikan tingkah laku anak Anda saat mengerjakan pekerjaan rumah. Jika si anak lebih mudah mengerti dengan membaca, tertarik pada gambar, diagram, tabel serta grafik; kemungkinan besar anak Anda punya tipe belajar visual. Maka untuk membantunya belajar di rumah, sediakan papan tulis serta gambar-gambar menarik sebagai komponen pendukung agar dia lebih mudah mengerti dan tertarik belajar.
2. Auditory
Anak dengan tipe belajar auditory, harus mendengarkan pelajaran mereka untuk memahaminya. Mereka lebih suka segala sesuatunya dijelaskan dengan perkataan. Tanyakan pada anak Anda, apakah dia lebih suka menyimak pelajaran dari papan tulis atau saat guru mendiktenya? Jika dia memilih yang kedua, maka si anak adalah tipe auditory.
Dilansir oleh eHow, tipe pendengar biasanya merekam informasi yang telah diucapkan. Beberapa dari mereka bahkan merasa lebih nyaman belajar jika disertai suara musik pelan. Mereka biasanya mengingat pelajaran dalam bentuk lagu favorit atau puisi. Keuntungan dari tipe ini, mereka tidak mudah bosan belajar, selama materinya disampaikan dengan cara audio.
Bila anak Anda termasuk tipe auditory, Anda bisa membekalinya dengan perangkat audio seperti MP3 player yang dilengkapi fitur audio recording. Sebelumnya, minta bantuan guru di sekolahnya untuk menyampaikan materi secara visual maupun audio dengan intensitas yang sama. Dengan begitu, anak dengan kemampuan belajar visual maupun auditory bisa sama-sama menyerap pelajaran dengan baik. Namun jika si anak tetap sulit menangkap pelajaran --karena sebagian besar sekolah reguler menerapkan metode pengajaran visual-- Anda bisa memasukkannya ke sekolah privat atau home schooling.
3. Kinestetik
Anak dengan kemampuan belajar kinestetik tidak bisa hanya duduk tenang dan menunggu informasi disampaikan. Mereka tertarik mencari sendiri hal-hal yang ingin mereka tahu tanpa harus selalu membaca buku panduan. Oleh karena itu, tipe ini cenderung tidak bisa diam dan kerap dianggap anak nakal karena kerap tidak bisa diam dan sulit mendengarkan penjelasan guru di sekolah.
Selain itu, tipe kinestetik sangat suka berjalan-jalan karena mereka melihat lingkungan sekitar dengan cara berbeda. Bagi mereka, bumi adalah sebuah taman bermain raksasa yang penuh dengan berbagai hal menarik yang ingin mereka ketahui dan jelajahi.
Tanyakan pada anak Anda, ketika mendengar kata 'kucing', apa yang langsung terlintas dalam pikirannya? Jika ia mengatakan; 'hewan dengan bulu-bulu halus', kemungkinan besar si anak adalah tipe kinestetik. Sentuhan dan rasa sangat penting baginya dan dia lebih tertarik pada pelajaran yang bersifat eksperimen dan study tour.
Ajari dia belajar dengan cara mencontohkan apa yang harus dia lakukan. Tipe kinestetik menangkap informasi baru dengan melihat apa yang dilakukan orang lain, lalu mencobanya sendiri. Gunakan balok-balok atau magnet bertuliskan huruf alfabet untuk ajarkan dia mengeja. Si anak akan mengingat huruf-huruf dengan menyentuh dan memindah-mindahkannya. Buat aktivitas belajar dalam beberapa sesi dengan waktu yang pendek, dan tawarkan istirahat sebentar di setiap akhir sesi agar tidak lelah.
Manakah tipe Belajar Ananda ?

5 Cara Agar Anak Mau Berhenti Ngedot

5 Cara Agar Anak Mau Berhenti Ngedot

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan atau mengurangi kebiasaan minum susu melalui botol. Cara ini perlu dilakukan dengan penuh kesabaran agar tidak menimbulkan dampak negatif pada anak seperti rasa kecewa dan rasa cemas yang berkepanjangan pada anak.
Adapun cara-cara yang dimaksud adalah:
1. Penyapihan susu botol seawal mungkin. Penyapihan susu botol harus dilakukan secara perlahan-lahan untuk menghindari rasa cemas dan kecewa yang berlebihan. Usia 7-8 bulan sebaiknya anak-anak sudah dilatih minum susu dari gelas secara bertahap. Mula-mula satu teguk, dua teguk, dan seterusnya hingga di usia setahun si kecil sudah bisa minum dari gelas dengan penutup yang 'mulut'-nya dan punya dua 'kuping' di kiri kanan sebagai pegangan.
2. Pemberian air putih dan pembersihan mulut. Pemberian air putih sesudah minum susu dari botol dapat dilakukan dengan cara menyediakan botol susu lain yang diisi dengan air putih, atau dengan cara berkumur apabila anak sudah dapat berkumur.
3. Pemberian dot penenang. Pemberian dot ini dilakukan pada anak yang berumur kurang dari dua tahun untuk mengurangi perasaan kecewa pada anak.
4. Usahakanlah untuk tidak memberikan susu pada anak saat menjelang tidur sampai tertidur.
5. Orang tua harus sedini mungkin melakukan tindakan pembersihan terhadap gigi-gigi anaknya. Sebaiknya sejak anak berusia delapan bulan, gigi-gigi yang sudah tumbuh dibersihkan dengan kapas yang dibasahi. Untuk anak yang lebih besar, pembersihan dapat dilakukan dengan sikat gigi kecil, paling sedikit dua kali sehari: pagi hari sesudah makan dan malam menjelang tidur. Cara ini harus dilakukan sehingga merupakan kebiasaan dan akhirnya anak belum merasa enak kalau belum menggosok gigi sesudah makan pagi dan menjelang tidur malam.

Bayi Lebih Sehat Jika Tidur Tanpa Bantal

Bayi Lebih Sehat Jika Tidur Tanpa Bantal

Mungkin hampir semua orang tahu bahwa tujuan tidur menggunakan bantal adalah agar tidur lebih nyaman. Setiap Mama juga pasti ingin bayinya dapat tidur dengan nyaman dan melengkapi tempat tidur bayinya dengan bantal dan guling yang empuk. Tapi, pernahkah terpikir oleh Mama, bahwa tidur tanpa bantal akan lebih sehat bagi bayi?
Berbagai macam bantal lucu dibuat khusus untuk bayi. Mulai dari bantal yang dibuat cekungan di tengahnya, agar kepala bayi bisa tersangga dengan tepat, sampai bantal khusus untuk menyusui, yang berbentuk mungil dan dipasang di pergelangan tangan Mama. Bahkan, seringkali lebih dari satu bantal yang disediakan di tempat tidur anak. Selain untuk penyangga kepala, juga ditujukan untuk menjadi ‘pagar’ agar anak tidak terjatuh di saat tidur.
Hal ini mungkin terlihat sepele. Tapi, Mama perlu tau bahwa, penggunaan bantal dan bedding dengan bahan yang terlalu lunak dan empuk serta ukuran yang terlalu besar, berisiko menyebabkan sufokasi (mati lemas), terutama pada bayi kecil atau anak yang belum dapat menggerakkan kepada dan anggota tubuh dengan baik.
Saat tidur dengan posisi telentang, kepala dan punggung bagian atas sebaiknya berada pada level yang sama. Oleh sebab itu, tidur tanpa bantal dapat dikatakan membuat tubuh berada pada posisi alami sehingga bayi akan lebih sehat. Beberapa literatur menyarankan menunda penggunaan bantal sampai bayi berusia sekitar 18 bulan. Menurut penelitian oleh National Sleep Foundation, 64 persen orang yang mengalami gangguan tidur, seperti nyeri pungung dan leher disebabkan oleh penggunaan bantal yang tidak sesuai.

4 Jurus Ampuh Agar Anak Tidak Manja

4 Jurus Ampuh Agar Anak Tidak Manja

Tahukah Anda, sikap manja anak bisa tumbuh, karena orang tua merasa tidak berdaya mengendalikan anak.
Namun menurut psikolog anak dan remaja, Richard Bromfield, Ph.D., dari Harvard Medical, ada 4 tips untuk mengambil kembali kendali Anda sebagai orang tua:
1. Berkomitmen tidak memanjakan anak
Jadikan Anda dan suami sebagai pemimpin di rumah, sehingga mereka akan mengikuti. Jadi, bukan hanya Anda yang bisa mengikuti kemauan anak, mereka juga harus bisa mengikuti keinginan orang tua.
2. Jelas dan tegas
Beritahu anak mengenai apa yang Anda harapkan secara gamblang. Misalnya, tekankan pada mereka untuk bisa mandiri membersihkan kamar sendiri dan menyiapkan segala keperluan sekolah.
3. Jangan ‘menyuap’ anak di rumah
Orang tua dan anak-anak akan membayar mahal kebiasaan ‘menyuap’ ini. Kebiasaan buruk ini akan terus mereka lakukan saat beranjak dewasa.
4. Jadilah bos
Tidak berarti Anda harus kejam. Maksudnya, bos yang bisa memahami, menyenangkan, memimpin, dan berwibawa sebagai orang tua. (sumber : parenting.co.id)

7 Cara agar Anak Segera Bisa Berjalan

7 Cara agar Anak Segera Bisa Berjalan

Bagaimana cara agar anak cepat berjalan? Tentu ada caranya. Hanya, setiap anak memiliki perkembangan berbeda-beda.
Secara umum, anak usia 1 tahun seharusnya sudah mampu berjalan beberapa langkah tanpa bantuan. Pada usia 12-18 bulan, kemampuan yang harus dikuasainya adalah berdiri tanpa bantuan, berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah, berjalan 2 atau 3 langkah tanpa bantuan, berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.
7 cara agar anak cepat berjalan:
1. Agar anak cepat berjalan, izinkan anak untuk bereksplorasi ke segala penjuru rumah. Saat anak mulai merangkak dan merambat, kurangi penggunaan kata "jangan" agar tak menghalangi geraknya.
2. Usahakan melepas anak dari gendongan sesering mungkin sehingga otot kakinya lebih lincah bergerak. Dengan begitu, harapan anak cepat berjalan dapat terwujud.
3. Ajak anak bermain untuk menstimulasi motoriknya, yakni bermain mengambil bola yang dilempar, mendengarkan lagu sambil melompat-lompat, dan sebagainya. Kemampuan motorik yang baik akan membantu anak cepat berjalan.
4. Ajak anak berjalan-jalan sore atau pagi. Bila kemampuan berjalan masih sangat kurang, orangtua bisa melakukannya sambil menatih anak, terus lakukan sampai anak bisa berjalan dengan baik.
5. Sediakan sarana agar anak cepat berjalan, misalnya tongkat berputar yang bertumpu pada satu poros. Dengan berpegangan pada bilah yang melintang, anak secara tak langsung berlatih berjalan saat mendorong bambu tersebut. Bisa juga dengan menyediakan gagang pegangan untuk berjalan seperti yang ada di pusat-pusat terapi. Intinya, ada satu benda kokoh yang digunakan untuk berpegangan saat keseimbangannya masih labil.
6. Singkirkan benda pecah belah atau pajangan kaca dari atas meja atau yang berada dalam jangkauan anak. Tujuannya agar proses belajar berjalan berlangsung aman.
7. Jangan memasang taplak yang menjuntai ke lantai karena bisa membuatnya tersandung, apalagi ketika ia belum mantap untuk berjalan. (sumber : kompas.com)

Cara Mengajarkan Kejujuran Pada Anak Sejak Dini

Cara Mengajarkan Kejujuran Pada Anak Sejak Dini

Kejujuran adalah nilai kehidupan mendasar yang paling penting yang harus diajarkan pada anak sejak ia kecil. Mengajarkan anak untuk berkata, bersikap dan berperilaku jujur akan menjadi pembelajaran yang berguna untuk kehidupannya kelak. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kejujuran adalah mata uang yang berlaku dinegara manapun. Pepatah seperti ini wajib dikenalkan pada anak-anak sejak usia dini. Sebab penanaman ilmu sejak dini umumnya akan cenderung lebih mudah diserap anak dan ditanamkan hingga mereka dewasa sehinga menjadi sebuah kebiasaan yang baik.
Cara terbaik untuk melatih kejujuran anak adalah dengan mencontohkan kejujuran tersebut dimulai dari diri orang tua itu sendiri. Jangan pernah mengharapakan anak anda memiliki sikap yang jujur bila setiap saat orangtua selalu menyuguhkan ketidak jujuran pada anaknya. Cara lain yang bisa dilakukan untuk mengajarkan sikap jujur atau kejujuran pada anak adalah dengan tidak bereaksi berlebihan bila si anak berbohong terhadap anda. Bereaksilah sewajarnya dan bantu anak untuk menemukan keberanian mengatakan kebenaran. Anak tahu jika kebohongan telah membuat anda kecewa, namun apabila reaksi yang anda berikan terlalu berlebihan, maka hal ini akan cenderung membuat anak ketakutan untuk berbicara yang sebenarnya.
Nah, selain dua poin tersebut dibawah ini ada pula beberapa tips lain yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kejujuran terhadap anak sejak usia dini.
1. Terapkan Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Penjelasan teori atau cerita mengenai kejujuran saja tidak cukup untuk menumbuhkan sikap kejujuran pada anak, hal ini perlu juga dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab anak-anak akan membutuhkan sesuatu yang nyata dalam pandangan mereka, sehingga teori mengenai kejujuran tidak akan lagi nampak abstrak untuk mereka. Untuk itu, mulailah menerapkan sikap dan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari, seperti menerapkannya dalam ucapan atau kalimat dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, apa yang diucapkan harus konsekuen dengan apa yang diperbuat. Sebab, kadang-kadang justru kalimat inilah yang sulit untuk dipegang. Nah, disinilah sebagai orangtua kita perlu belajar banyak dalam hal ini.
2. Berikan Pengetahuan dan Keyakinan Bahwa Tuhan Maha Melihat
Kenalkan anak pada keyakinan bahwa dimanapun mereka berada kapanpun mereka berbohong meski tanpa diketahui orang lain masih ada tuhan Yang Maha Melihat segalanya yang akan selalu mencatat setiap perilaku buruk yang mereka lakukan. Nah, lantas bagaimana orangtua bisa mengetahui anak-anaknya tetap berperilaku jujur atau tidak meski berada di luar rumah? Percayalah ibu, ketika kita menitipkan anak-anak kita pada sang Pemilik Hidup ketika anak-anak jauh dari jangkauan kita, maka apa yang dilakukannya diluar jangkauan prinsip kita pasti akan ditunjukannya pada kita. Misalkan ketika anak menyembunyikan sesuatu dalam tasnya, seolah secara tiba-tiba kita merasa ingin memeriksa tasnya dan menemukan apa yang mereka sembunyikan dari kita.
3. Berikan Pemahaman Bahwa 'Jujur Itu Nikmat'
Ada serangkaian kejujuran yang akan terasa nikmat namun kenikmatannya itu tidak dapat secara langsung kita nikmati. Hal ini penting sekali diajarkan kepada anak sejak dini. Ajarkan anak untuk selalu mendahulukan perilaku kejujuran sebab kejujuran akan mengantarkan mereka pada kehidupan yang tenang dan damai tanpa dihantui rasa bersalah.
Demikian beberapa tips mengajarkan kejujuran pada anak sejak usia dini. Anak-anak yang dibekali dengan perilaku dan sikap yang jujur akan melahirkan generasi penerus bangsa yang senantiasa selalu membawa nilai-nilai kebaikan pada orang-orang sekitarnya.

dikutip dari Dokter Anak.com