Pages

Friday, 6 March 2015

Kapan Anak Sebaiknya Diperkenalkan Gadget

Kapan Anak Sebaiknya Diperkenalkan Gadget

Berbicara soal waktu yang tepat dalam pemberian gadget pada anak memang tidak mudah mengingat motif orang tua berbeda-beda. Ada orang tua yang dengan dalih ingin anaknya “melek” teknologi sejak dini, segera membelikan gadget khusus buah hatinya. Lambat laun, pemberian gadget pada anak sepertinya malah menjadi tren dengan tujuan utama mengejar suatu prestise. Padahal, Yee-Jin Shin, psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea Selatan, menyebutkan bahwa pemberian gadget pada anak seharusnya dilakukan selambat mungkin mengingat banyaknya dampak buruk dari gadget yang bisa menyebabkan gangguan pada otak dan interaksi antara orang tua dan anak yang semakin menurun.
Dengan memberikan gadget selambat mungkin, anak akan lebih matang dan bijak dalam memperlakukan gadget serta orang tua dapat memberikan pengarahan yang lebih efektif pada anak sebab pola pikirnya sudah lebih dewasa. Semoga informasi tersebut bermanfaat.

Orangtua Sebisa Mungkin Hidari Membohongi Anak

Orangtua Sebisa Mungkin Hidari Membohongi Anak

Saat kecil, anak-anak selalu mendengarkan apa yang kita katakan. Akan tetap semakin besar, kok anak makin susah dinasihati? makin enggan menurut, atau malah melawan. Apa anak-anak sudah tidak mempercayai kita lagi?
Jawabannnya mungkin IYA! Coba tengok ke belakang, apakah kita pernah melakukan kebohongan-kebohongan kecil?
Coba simak kisah ini. Mikaela berusia 1,5 tahun. Setiap ayahnya berangkat kerja, ia selalu menangis meraung-raung. suatu hari Mikaela tertidur ketika saatnya ayahnya berangkat kerja. Ternyata, Mikaela sama sekali tidak menangis. Sejak itu, Ayahnya selalu mengendap-endap saat pergi kerja sehingga Mikaela tidak menyadarinya. Atau untuk membujuk Mikaela, Ayah berkata bahwa Ayah hanya pergi sebentar saja, padahal ternyata pulangnya malam sekali.
Contoh lain adalah menggunakan ancaman yang bohong. Misalnya saat Dodi tidak mau makan, ibupun mengancam Dodi, "kalau nggak mau makan, nanti nggak boleh main perosotan". Padahal akhirnya boleh juga, lagipula, tidak ada hubungan antara makan dan main perosotan, kan?
Anda familiar dengan kebiasaan tersebut? bila iya, mungkin inilah awal ketidakpercayaan anak kepada orangtuanya. Anak tidak lagi percaya dengan apa yang kita katakan, bahkan anak kehilangan rasa amannya akan janji-janji yang kita ucapkan
Yang sebaiknya dilakukan
Jujur dan proporsional dalam berkomunikasi dengan anak. Ungkapkan dengan penuh kasih sayang. Saat pergi ke kantor, sampaikan apa yang sebenernya dengan kata-kata yang mudah ia pahami misalnya seperti
"Ella, Papa mau pergi ke kantor dulu ya, nanti sore habie Ella mandi, Papa akan pulang kita bisa main lagi sama sama"
Mungkin anak tetap menangis, tapi lama kelamaan dia belajar bahwa Papa memang akan tetap pergi, tapi sore nanti pasti datang. Ini menciptakan rasa aman dalam dirinya.

3 Gaya Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik Anak, yang Manakah Gaya Anda ?

3 Gaya Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik Anak, yang Manakah Gaya Anda ?

Membesarkan anak bukanlah persoalan gampang. Sebagian besar pola asuh yang diterapkan orangtua datang dari pengalaman pribadi yang mereka alami sewaktu kecil. Makanya, tak sedikit suami dan istri yang memiliki pola asuh berbeda saat membesarkan buah hatinya.
Pola asuh yang berbeda antara suami dan istri terkadang berujung pada konflik. Namun lebih jauh lagi, ini bisa memunculkan kebingungan di benak anak mengenai apa yang harus ia perbuat, bagaimana sebaiknya ia bertindak, hingga aturan mana yang sebetulnya dikenakan padanya.
Oleh karena itu, orangtua sebaiknya mengakomodasi kebutuhan anak dan memberikan toleransi perbedaan dengan mengubah beberapa kebiasaan menjadi pola asuh yang tepat bagi buah hati.
Secara garis besar, ada tiga gaya pola asuh , yakni otoriter, permisif, dan demokratis.
1. Pola Asuh Otoriter
Orangtua yang otoriter memiliki kontrol penuh atas segala hal yang berkaitan dengan anak-anak mereka. Tak jarang, mereka menerapkan aturan-aturan yang ketat. Bahkan bisa saja, anak-anak dari orangtua yang otoriter tidak tahu kenapa aturan itu harus ada.
Orangtua otoriter lebih banyak menerapkan hukuman dibanding memberikan penguatan positif terhadap perilaku “salah” anak. Pola asuh ini memang cukup efektif untuk sementara waktu, akan tetapi ia tidak akan membuat anak langsung memahami mana yang benar dan mana yang salah.
2. Pola Asuh Permisif
Orangtua yang permisif akan membiarkan anak-anak mereka memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, orangtua acapkali menemukan kesulitan untuk menetapkan aturan-aturan, misalnya yang berkaitan dengan rutinitas.
Anak-anak biasanya juga diperbolehkan membuat pilihan sendiri, bahkan meski anak-anak tersebut tidak selalu mampu bersikap baik dan membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Akibat lebih jauh, orangtua yang permisif mungkin akan merasa bingung mencari cara untuk mengontrol anak-anaknya, sehingga malah membiarkan anaknya terus berperilaku negatif.
3. Pola Asuh Demokratis
Orangtua yang demokratis akan menjaga keseimbangan antara pola asuh otoriter dan pola asuh permisif. Mereka akan memastikan Sang Buah Hati tahu dan paham apa yang mereka harapkan.
Fokus mereka lebih pada penguatan positif untuk perilaku yang baik, ketimbang semata menghukum anak. Hukuman lebih bersifat memberi kesempatan belajar yang memungkinkan anak memahami kenapa perilaku mereka tidak diinginkan oleh orangtua. (sumber : tabloidnova.com)

10 Cara Menguatkan Hubungan Ayah dengan Anak Perempuan

10 Cara Menguatkan Hubungan Ayah dengan Anak Perempuan

Hubungan ayah dan anak perempuan sangat penting karena menjadi dasar bagi hubungan dengan lawan jenisnya. Hubungan yang tak baik antara ayah dan anak perempuan biasanya juga bisa berimbas pada emosi anak dan caranya membangun hubungan dengan pria lain dalam hidupnya. Berikut adalah cara membangun hubungan yang kuat antara ayah dan anak perempuan, seperti dilansir oleh Times of India.
1. Menjadi teman
Perlakukan anak perempuan sebagai teman dengan sering ngobrol. Tak hanya berbicara, ayah juga harus berbagi ide sambil mendengarkan dan meminta pendapat anaknya.
2. Sejajar
Jangan bersikap seolah anak perempuan tak tahu apa-apa dan ayah tahu segalanya. Perlakukan dia secara sejajar. Anak-anak saat ini lebih sensitif dan tahu apa yang sedang mereka lakukan.
3. Jadi mediator
Ketika anak perempuan bertengkar dengan ibunya, ayah harus berada di tengah sebagai mediator. Campur tangan pria akan membantu menyelesaikan masalah dan menenangkan kedua belah pihak.
4. Komunikasi
Jika ayah bukan orang yang mudah berkomunikasi atau menunjukkan perasaan, maka ayah bisa memulai dengan hal kecil seperti membantunya mengerjakan tugas rumah atau mengajaknya berjalan-jalan sesekali.
5. Percaya
Ketika anak perempuan memasuki masa remaja, ayah biasanya bersikap terlalu over protektif. Perilaku ini akan membuat anak perempuan semakin jauh dengan ayahnya. Jangan terlalu mencurigai di mana dan apa yang dilakukan anak. Beri mereka petunjuk kemudian beri mereka kepercayaan.
6. Mandiri
Anak perempuan tak selamanya menjadi bayi, jadi biarkan dia mandiri. Ketika melakukan kesalahan, biarkan mereka belajar dari kesalahan mereka sendiri. Diskusikan secara sehat mengenai kesalahan yang mereka lakukan. Jangan menyalahkan atau memojokkan mereka.
7. Cintai anak sepenuhnya
Bagaimanapun dia adalah anak perempuan bagi ayahnya, jadi sudah seharusnya seorang ayah mencintai anaknya tanpa syarat bahkan ketika dia berbuat kesalahan dan bukan anak perempuan yang ideal. Dukungan ini akan menguatkan anak dan membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik.
8. Terima teman-temannya
Menerima teman-teman anak perempuan kadang bisa menyusahkan. Jenis teman yang berada dalam lingkarannya bisa jadi mengejutkan. Namun menerima mereka berarti ayah bisa menerima putri mereka.
9. Sabar
Saat remaja, hormon anak akan semakin menggila, begitu juga dengan emosi. Anak perempuan akan menjadi yang pertama meninggikan suaranya, sementara ayah harus selalu menahan emosi mereka. Ketika ayah terlihat tidak ikut emosi, maka anak perempuan akan menenangkan diri mereka sendiri.
10. Habiskan waktu bersama
Waktu bersama adalah hal yang bisa menguatkan hubungan. Coba lakukan sesuatu bersama-sama, seperti menanam bunga kesukaannya atau ikut bermain game favoritnya. Ini membuat anak perempuan merasa diperhatikan dan diterima sepenuhnya.
Untuk memperkuat hubungan dengan anak perempuan Anda, jangan ragu untuk melakukan 10 cara di atas. (sumber : merdeka.com)

Jangan Bilang “Berhenti Menangis” Pada Anak Menangis

Jangan Bilang “Berhenti Menangis” Pada Anak Menangis

Untuk anda yang sudah pernah memiliki momongan, tentunya anda tidak asing dengan anak yang menangis bukan? Ada banyak hal yang bisa anda lakukan untuk menenangkan anak menangis lho, Moms. tapi jangan pernah mengatakan ‘berhenti menangis’ atau ‘jangan menangis’ karena larangan-larangan semacam itu tidak akan bisa digunakan untuk buah hati anda lho, Moms
Ketika buah hati anda menangis dan anda terus-terusan menyuruhnya berhenti, ini hanya akan membuat suasana semakin tegang. Hasilnya, si kecil akan terus rewel dan anda akan marah dengan si kecil akibat tidak bisa ditenangkan. Anda tidak ingin ini terjadi bukan?
Kuncinya untuk menenangkan anak yang menangis adalah jangan pernah memintanya untuk berhenti. Anak tidak akan berhenti hanya karena anda memintanya. Cara terbaik untuk menenangkan anak yang menangis adalah dengan mengalihkan perhatiannya. Menangis adalah cara yang digunakannya untuk menarik perhatian anda. yakinkan padanya bahwa itu bukan cara yang tepat untuk menarik perhatian anda, Moms.
Anak berhenti menangis ketika dia tahu bahwa anda tahu apa yang dia inginkan. Ini bisa mudah dan bisa sulit lho. Pancing dia keluar dari tangisannya. Misalnya, katakana bahwa anda tidak akan tahu apa yang dia minta apabila dia terus menangis. Menurut family.go.com, pastikan bahwa anda bisa membuatnya mengatakan pada anda apa yang dia inginkan dan dia akan berhenti menangis dengan sendirinya
Oleh : Mamor Adi P. / Vemale.com